Imam Muslim
meriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah (SAW) bersabda; “Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan
kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing.”
(HR. Muslim [145] dalam Kitab al-Iman. Syarh
Muslim, 1/234).
Syaikh al-Albani
rahimahullah menyebutkan di dalam Silsilah al-Ahadits as-Shahihah penafsiran
makna orang-orang yang asing tersebut dengan sanad yang sahih. Diriwayatkan
oleh Abu Amr ad-Dani dalam as-Sunan al-Waridah fi al-Fitan dari Abdullah bin
Mas’ud radhiyallahu’anhu secara marfu’ -sampai kepada Nabi-, beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Islam itu datang dalam keadaan asing
dan akan kembali menjadi asing seperti ketika datangnya. Maka beruntunglah
orang-orang yang asing.” Ada yang bertanya, “Siapakah mereka itu wahai
Rasulullah?”. Maka beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang tetap baik
[agamanya] tatkala orang-orang lain menjadi rusak.” (as-Shahihah no 1273
[3/267]. as-Syamilah, lihat juga Limadza ikhtartul manhaj salafi, hal. 54).
Dua tafsiran
marfu’ mengenai makna Al Ghuroba yaitu; [1] Orang-orang yang [tetap] baik
tatkala masyarakat telah diliputi kerusakan. [2] Orang-orang salih yang hidup
di tengah-tengah banyak orang yang buruk [agamanya]
Begitulah,
menjadi Muslim yang baik itu pada awalnya adalah sebuah pilihan yang
mengasingkan. Menapaki jalan hidayah setapak demi setapak, di tengah kuatnya
godaan syetan akhir zaman, pada mulanya juga adalah sebuah pilihan yang
mengasingkan. Menghapus satu demi satu dosa untuk menuju taubat dan penghambaan
yang tulus juga adalah sebuah pilihan yang mengasingkan. Mereka yang berdakwah
mengajak kembali kepada Sunnah di tengah fanatisme mazhab juga sebuah pilihan
yang mengasingkan. Mereka yang menaikkan celana di atas mata kaki, memelihara jenggot, memakai hijab besar, pada mulanya
juga pilihan yang mengasingkan.
Pun mereka yang
memilih MENJOMBLO demi menjaga kemuliaan diri, di saat yang lainnya sibuk
gonta-ganti pacar, itu juga pilihan yang mengasingkan. Saat yang lainnya dengan
bangga bercerita tentang pacar-pacar mereka, mantan-mantan mereka yang entah
berapa jumlahnya, hanya bisa membisu
sambil senyam-senyum karena tidak tau siapa yang harus diceritakan, seperti
orang asing. Hidup dalam keterasingan itu memang berat, melawan arus yang lazim,
menjadi berbeda sendiri di tengah arus zaman. Menjaga Sunnah di akhir zaman
adalah pilihan yang tidak mudah, layaknya menggenggam bara api. Namun meskipun
berat jangan lantas kau lepas iman itu. Karena bila hari itu tiba kesendirian,
keterasingan ini akan berubah menjadi kebahagiaan, akan menjadi sebuah cerita yang
happy ending yang diawali dengan kata “Dulu…………….” Untuk anak-anak kita kelak.
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
“Dan
jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka
akan menyesatkanmu dari jalan Allah” (QS. Al An’am : 116)
Akhir
kata, “………Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu” Kamukah salah satu orang asing itu?
^_-
Berani
memilih benar meski sendiri!

syukron ilmunya
BalasHapusmar berbangga menjadi orang yg asing di mata orang2 yang terlena dengan perkembangan dunia namun kejahilan semakin merajal lela namun bangga menjadi pengikut sunnah nabi shallahu alahi wassalam
salam dakwah tauhid sunnah wal jihad admin kumpulankonsultasi.com