Jumat, 06 Maret 2015

HIDUP DALAM KETERASINGAN




Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah (SAW) bersabda; “Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing.”  (HR. Muslim [145] dalam Kitab al-Iman. Syarh Muslim, 1/234).


Syaikh al-Albani rahimahullah menyebutkan di dalam Silsilah al-Ahadits as-Shahihah penafsiran makna orang-orang yang asing tersebut dengan sanad yang sahih. Diriwayatkan oleh Abu Amr ad-Dani dalam as-Sunan al-Waridah fi al-Fitan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu secara marfu’ -sampai kepada Nabi-, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Islam itu datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing seperti ketika datangnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” Ada yang bertanya, “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?”. Maka beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang tetap baik [agamanya] tatkala orang-orang lain menjadi rusak.” (as-Shahihah no 1273 [3/267]. as-Syamilah, lihat juga Limadza ikhtartul manhaj salafi, hal. 54).


Dua tafsiran marfu’ mengenai makna Al Ghuroba yaitu; [1] Orang-orang yang [tetap] baik tatkala masyarakat telah diliputi kerusakan. [2] Orang-orang salih yang hidup di tengah-tengah banyak orang yang buruk [agamanya]


Begitulah, menjadi Muslim yang baik itu pada awalnya adalah sebuah pilihan yang mengasingkan. Menapaki jalan hidayah setapak demi setapak, di tengah kuatnya godaan syetan akhir zaman, pada mulanya juga adalah sebuah pilihan yang mengasingkan. Menghapus satu demi satu dosa untuk menuju taubat dan penghambaan yang tulus juga adalah sebuah pilihan yang mengasingkan. Mereka yang berdakwah mengajak kembali kepada Sunnah di tengah fanatisme mazhab juga sebuah pilihan yang mengasingkan. Mereka yang menaikkan celana di atas mata kaki, memelihara  jenggot, memakai hijab besar, pada mulanya juga pilihan yang mengasingkan.


Pun mereka yang memilih MENJOMBLO demi menjaga kemuliaan diri, di saat yang lainnya sibuk gonta-ganti pacar, itu juga pilihan yang mengasingkan. Saat yang lainnya dengan bangga bercerita tentang pacar-pacar mereka, mantan-mantan mereka yang entah berapa  jumlahnya, hanya bisa membisu sambil senyam-senyum karena tidak tau siapa yang harus diceritakan, seperti orang asing. Hidup dalam keterasingan itu memang berat, melawan arus yang lazim, menjadi berbeda sendiri di tengah arus zaman. Menjaga Sunnah di akhir zaman adalah pilihan yang tidak mudah, layaknya menggenggam bara api. Namun meskipun berat jangan lantas kau lepas iman itu. Karena bila hari itu tiba kesendirian, keterasingan ini akan berubah menjadi kebahagiaan, akan menjadi sebuah cerita yang happy ending yang diawali dengan kata “Dulu…………….” Untuk anak-anak kita kelak.

  

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ


“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” (QS. Al An’am : 116)



Akhir kata, “………Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu” Kamukah salah satu orang asing itu? ^_-


Berani memilih benar meski sendiri!


1 komentar:

  1. syukron ilmunya
    mar berbangga menjadi orang yg asing di mata orang2 yang terlena dengan perkembangan dunia namun kejahilan semakin merajal lela namun bangga menjadi pengikut sunnah nabi shallahu alahi wassalam

    salam dakwah tauhid sunnah wal jihad admin kumpulankonsultasi.com

    BalasHapus