Kamis, 07 Mei 2015

IMAN DAN ILMU: ISRA' MI'RAJ

Apa yang terjadi jika kita mampu berlari secepat kecepatan cahaya (300.000km/s) ? Atau jika kita naik kendaraan dengan kecepatan cahaya ? Apa yang akan terjadi ? Ada beberapa hal yang akan terjadi, salah satunya adalah terjadinya fenomena MELAMBATNYA WAKTU atau DILATASI WAKTU yang menurut Einstein dalam teori relativitas khususnya dirumuskan dengan persamaan: 

 t' = t/ 1- akar v2-c2

 dimana: 
t' = waktu benda bergerak 
t  = waktu benda diam 
v = kecepatan benda bergerak 
c = kecepatan cahaya 



 


 Artinya bahwa jika kita bergerak mendekati kecepatan cahaya, semua orang yang melihat kita akan melihat bahwa waktu akan berjalan lebih lambat untuk kita, jam kita berjalan lebih lambat, umur kita melambat, detak jantung kita melambat, dst. Tapi kita juga melihat hal yang sama, umur orang-orang itu melambat, dst. 

Di soal2 fisika sering dikemukakan kasus tentang 2 saudara kembar A dan B yang berumur 30 tahun. A melakukan perjalanan ke luar angkasa naik kendaraan dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya selama misal 5 tahun menurut perhitungan A, sedang B tetap berada di bumi. Setelah A kembali ke bumi dan kembali pada kecepatan bumi, maka A akan menemukan fakta bahwa umur A berjalan normal biasa 5 tahun, tapi yang terjadi di bumi waktu telah lebih lama yang terlewati, yaitu sudah 7 tahun, jadi umur A 35 tahun sedang umur B sudah 37 tahun. 

Satu analogi lagi untuk menjabarkan rumus persamaan diatas, ada 2 orang pelari, misal A dan B, jika A berlari dengan kecepatan yang sama dengan B maka A melihat B berada di samping nya, jika A sedikit lebih cepat dari B maka A akan melihat B sedikit di belakangnya, jika A berlari 2 kali lebih cepat dari B, maka A akan melihat B akan jauh tertinggal di belakang, bagaimana jika kecepatan si A terus dinaikkan? maka A akan melihat B bergerak sangat lambat. Nah bagaimana jika kecepatan A terus naik hingga mencapai kecepatan cahaya yaitu 300.000km/s ? Yang terjadi adalah A akan melihat B berhenti bergerak alias waktu akan terhenti, sedangkan dia masih bergerak maju. 

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana jika A menaikkan lagi kecepatannya hingga melebihi kecepatan cahaya ? A akan melihat B bergerak mundur, sehinggga dengan kata lain A telah berpindah/ melompati waktu, menjelajah waktu. Lalu apa inti dari tulisan ini ? Intinya bahwa peristiwa Isra' Miraj dengan kendaraan Buraq yang kecepatannya melebihi kecepatan cahaya oleh Nabi Muhammad SAW yang sebentar lagi kita peringati (27 Rajab) ternyata bisa dijelaskan secara fisika. Yang sekaligus bisa meyakinkan kaum peragu bahwa peristiwa Isra' Miraj itu adalah peristiwa yang logis, masuk akal dan rasional bukan dongeng dan mengada-ada. Bahwa perjalanan pada diri Nabi Muhammad ṣallallāhu 'alayhi wa sallam malam itu adalah peristiwa yang benar2 terjadi dengan ruh dan jasad (fisik)nya, dalam keadaan terjaga dan bukan mimpi. Rasul bukan bermimpi karena dapat menjelaskan secara detil tentang masjid Aqsha dan tentang kafilah yang masih dalam perjalanan. Rasul juga keluar dari dimensi ruang dan waktu, meluncur ke ufuk yang tertinggi, melalui sistem planet, menerobos ruang langit yang luas, berlanjut terus ke gugusan Bintang Bima Sakti, meningkat kemudian mengarungi Semesta Alam hingga sampai di ruang yang dibatasi oleh ruang yang tak terbatas sehingga dapat menembus masa lalu dengan menemui beberapa Nabi. Di langit pertama (langit dunia) sampai langit tujuh berturut-turut bertemu (1) Nabi Adam, (2) Nabi Isa dan Nabi Yahya, (3) Nabi Yusuf, (4) Nabi Idris, (5) Nabi Harun, (6) Nabi Musa, dan (7) Nabi Ibrahim. Rasulullah SAW juga ditunjukkan surga dan neraka, suatu alam yang mungkin berada di masa depan, mungkin juga sudah ada masa sekarang sampai setelah kiamat nanti. Kemudian sampailah Rasulullah Muhammad saw pada Ruang yang Mutlak yang dinamakan “Maha Ruang”. Inilah yang disebut “Dan dia Muhammad di ufuk yang tertinggi” 

 “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah diberkahi sekelilingnya oleh Allah agar Kami perhatikan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS Al Isra:1).

 Jadi, bisa kita pahami sebenarnya ilmu dan agama adalah sejalan. Hanya saja terkadang ilmu belum mampu dan butuh waktu untuk menjelaskan apa yang menjadi syariat dalam agama kita jika ditinjau dari segi keilmuan. Lalu apakah kehebatan ilmu sains bisa membuat seseorang itu menjadi beriman ? Faktanya tidak. Stephen Hawking salah satu ilmuwan terhebat abad modern pernah berkata yang kurang lebihnya, "Bahwa ke sudut manapun anda pergi menjelajah jagad raya ini, anda tidak akan pernah menemukan tuhan (god, ditulis dengan g huruf kecil), anda hanya akan menemukan gugusan bintang dan galaksi". Siapa pun ia jika mengira akal adalah Tuhan yang patut disembah, sains adalah Maha Guru tertinggi yang patut dipuji, maka ia bagai berada dalam dimensi yang terus memenjaranya untuk tidak menemukan kebenaran hakiki. Sains tak bisa membuktikan Tuhan ada, tapi sains juga tidak bisa membuktikan Tuhan itu tidak ada. Dengan ini hendaklah membatasi ekspansi sains, menyisakan ruang bagi iman.

Jumat, 06 Maret 2015

HIDUP DALAM KETERASINGAN




Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah (SAW) bersabda; “Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing.”  (HR. Muslim [145] dalam Kitab al-Iman. Syarh Muslim, 1/234).


Syaikh al-Albani rahimahullah menyebutkan di dalam Silsilah al-Ahadits as-Shahihah penafsiran makna orang-orang yang asing tersebut dengan sanad yang sahih. Diriwayatkan oleh Abu Amr ad-Dani dalam as-Sunan al-Waridah fi al-Fitan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu secara marfu’ -sampai kepada Nabi-, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Islam itu datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing seperti ketika datangnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” Ada yang bertanya, “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?”. Maka beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang tetap baik [agamanya] tatkala orang-orang lain menjadi rusak.” (as-Shahihah no 1273 [3/267]. as-Syamilah, lihat juga Limadza ikhtartul manhaj salafi, hal. 54).


Dua tafsiran marfu’ mengenai makna Al Ghuroba yaitu; [1] Orang-orang yang [tetap] baik tatkala masyarakat telah diliputi kerusakan. [2] Orang-orang salih yang hidup di tengah-tengah banyak orang yang buruk [agamanya]


Begitulah, menjadi Muslim yang baik itu pada awalnya adalah sebuah pilihan yang mengasingkan. Menapaki jalan hidayah setapak demi setapak, di tengah kuatnya godaan syetan akhir zaman, pada mulanya juga adalah sebuah pilihan yang mengasingkan. Menghapus satu demi satu dosa untuk menuju taubat dan penghambaan yang tulus juga adalah sebuah pilihan yang mengasingkan. Mereka yang berdakwah mengajak kembali kepada Sunnah di tengah fanatisme mazhab juga sebuah pilihan yang mengasingkan. Mereka yang menaikkan celana di atas mata kaki, memelihara  jenggot, memakai hijab besar, pada mulanya juga pilihan yang mengasingkan.


Pun mereka yang memilih MENJOMBLO demi menjaga kemuliaan diri, di saat yang lainnya sibuk gonta-ganti pacar, itu juga pilihan yang mengasingkan. Saat yang lainnya dengan bangga bercerita tentang pacar-pacar mereka, mantan-mantan mereka yang entah berapa  jumlahnya, hanya bisa membisu sambil senyam-senyum karena tidak tau siapa yang harus diceritakan, seperti orang asing. Hidup dalam keterasingan itu memang berat, melawan arus yang lazim, menjadi berbeda sendiri di tengah arus zaman. Menjaga Sunnah di akhir zaman adalah pilihan yang tidak mudah, layaknya menggenggam bara api. Namun meskipun berat jangan lantas kau lepas iman itu. Karena bila hari itu tiba kesendirian, keterasingan ini akan berubah menjadi kebahagiaan, akan menjadi sebuah cerita yang happy ending yang diawali dengan kata “Dulu…………….” Untuk anak-anak kita kelak.

  

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ


“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” (QS. Al An’am : 116)



Akhir kata, “………Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu” Kamukah salah satu orang asing itu? ^_-


Berani memilih benar meski sendiri!


Rabu, 25 Februari 2015

KEBAIKAN KECIL


Sering iba saat melihat orang-orang tua yang berjualan di pinggir-pinggir jalan di pasar-pasar terlebih jika jualannya tidak laku. Ada baiknya sesekali (atau sering juga boleh) kita membeli barang jualan mereka, tidak usah takut ataupun ragu makanan yang mereka jual tidak higienis dsb, karena membeli dagangan mereka artinya mereka pulang ke rumah dengan membawa rezeki untuk keluarganya. Adakalanya juga sesekali kita tidak usah menawar harganya alias langsung bayar aja. Mungkin akan sedikit lebih mahal dari harga di mall-mall atau toko-toko besar, tapi coba renungkan kembali, bhw tidak seperti pemilik mall-mall atau toko-toko besar yang mencari margin laba untuki menumpuk-numpuk kekayaan, jalan-jalan ke luar negeri, dllll...Mereka para pedagang kecil menggunakan margin untung tidak lain tidak bukan hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, makan, bayar sekolah anak.

Bagi kita mungkin itu hanyalah hal kecil hal sepele tapi bagi mereka hal itu bisa sangat sangatlah berarti karena artinya ada rezeki yang akan mereka bawa pulang ke rumah. Bagi kita mungkin itu hanyalah sebuah kebaikan kecil tapi kita tidak pernah tau mana amal kebaikan yang mana yang kan membawa kita ke surga, bisa jadi kebaikan-kebaikan kecil itulah yang justru membawa kita ke surga.

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan “Ketika seorang laki-laki berjalan di jalan, ia merasa sangat kehausan. Lalu ia mendapat sebuah sumur dan turun ke dalam sumur itu dan minum darinya. Ia pun keluar dari sumur. Ternyata ada seekor anjing yang menjulurkan lidahnya menjilati tanah basah karena kehausan. Orang itu berkata ”Anjing ini telah merasakan kehausan seperti yang pernah aku rasakan”. Lalu ia turun ke dalam sumur tesebut dan memenuhi sepatunya dengan air kemudian memegangnya dengan mulutnya hingga ia dapat naik ke atas dan memberi minum anjing tersebut, maka Allah berterima kasih padanya dan mengampuni dosanya. Para sahabat bertanya ”Apakah ada pahala bagi kami dalam hewan ternak kami?” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ”Dalam setiap hati yang basah terdapat pahala”

Selama ini kita sibuk mencari teman-teman dan kekasih-kekasih dunia, sehingga kita lupa untuk mencari teman dan kekasih akhirat yaitu berupa amal kebaikan. Marilah kita terus berbuat baik kepada siapa saja sekecil apapun. Karena kita tidak pernah tau kebaikan yg kita anggap kecil ternyata bermanfaat besar bagi orang lain. Selayaknya kita tidak meremehkan kebaikan kecil, juga janganlah kita meremehkan dosa-dosa kecil.

Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, dia akan melihat balasannya” (QS-Al-Zalzalah: 7-8).