t' = t/ 1- akar v2-c2
dimana:
t' = waktu benda bergerak
t = waktu benda diam
v = kecepatan benda bergerak
c = kecepatan cahaya
Artinya bahwa jika kita bergerak mendekati kecepatan cahaya, semua orang yang melihat kita akan melihat bahwa waktu akan berjalan lebih lambat untuk kita, jam kita berjalan lebih lambat, umur kita melambat, detak jantung kita melambat, dst. Tapi kita juga melihat hal yang sama, umur orang-orang itu melambat, dst.
Di soal2 fisika sering dikemukakan kasus tentang 2 saudara kembar A dan B yang berumur 30 tahun. A melakukan perjalanan ke luar angkasa naik kendaraan dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya selama misal 5 tahun menurut perhitungan A, sedang B tetap berada di bumi. Setelah A kembali ke bumi dan kembali pada kecepatan bumi, maka A akan menemukan fakta bahwa umur A berjalan normal biasa 5 tahun, tapi yang terjadi di bumi waktu telah lebih lama yang terlewati, yaitu sudah 7 tahun, jadi umur A 35 tahun sedang umur B sudah 37 tahun.
Satu analogi lagi untuk menjabarkan rumus persamaan diatas, ada 2 orang pelari, misal A dan B, jika A berlari dengan kecepatan yang sama dengan B maka A melihat B berada di samping nya, jika A sedikit lebih cepat dari B maka A akan melihat B sedikit di belakangnya, jika A berlari 2 kali lebih cepat dari B, maka A akan melihat B akan jauh tertinggal di belakang, bagaimana jika kecepatan si A terus dinaikkan? maka A akan melihat B bergerak sangat lambat. Nah bagaimana jika kecepatan A terus naik hingga mencapai kecepatan cahaya yaitu 300.000km/s ? Yang terjadi adalah A akan melihat B berhenti bergerak alias waktu akan terhenti, sedangkan dia masih bergerak maju.
Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana jika A menaikkan lagi kecepatannya hingga melebihi kecepatan cahaya ? A akan melihat B bergerak mundur, sehinggga dengan kata lain A telah berpindah/ melompati waktu, menjelajah waktu. Lalu apa inti dari tulisan ini ? Intinya bahwa peristiwa Isra' Miraj dengan kendaraan Buraq yang kecepatannya melebihi kecepatan cahaya oleh Nabi Muhammad SAW yang sebentar lagi kita peringati (27 Rajab) ternyata bisa dijelaskan secara fisika. Yang sekaligus bisa meyakinkan kaum peragu bahwa peristiwa Isra' Miraj itu adalah peristiwa yang logis, masuk akal dan rasional bukan dongeng dan mengada-ada. Bahwa perjalanan pada diri Nabi Muhammad ṣallallāhu 'alayhi wa sallam malam itu adalah peristiwa yang benar2 terjadi dengan ruh dan jasad (fisik)nya, dalam keadaan terjaga dan bukan mimpi. Rasul bukan bermimpi karena dapat menjelaskan secara detil tentang masjid Aqsha dan tentang kafilah yang masih dalam perjalanan. Rasul juga keluar dari dimensi ruang dan waktu, meluncur ke ufuk yang tertinggi, melalui sistem planet, menerobos ruang langit yang luas, berlanjut terus ke gugusan Bintang Bima Sakti, meningkat kemudian mengarungi Semesta Alam hingga sampai di ruang yang dibatasi oleh ruang yang tak terbatas sehingga dapat menembus masa lalu dengan menemui beberapa Nabi. Di langit pertama (langit dunia) sampai langit tujuh berturut-turut bertemu (1) Nabi Adam, (2) Nabi Isa dan Nabi Yahya, (3) Nabi Yusuf, (4) Nabi Idris, (5) Nabi Harun, (6) Nabi Musa, dan (7) Nabi Ibrahim. Rasulullah SAW juga ditunjukkan surga dan neraka, suatu alam yang mungkin berada di masa depan, mungkin juga sudah ada masa sekarang sampai setelah kiamat nanti. Kemudian sampailah Rasulullah Muhammad saw pada Ruang yang Mutlak yang dinamakan “Maha Ruang”. Inilah yang disebut “Dan dia Muhammad di ufuk yang tertinggi”
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah diberkahi sekelilingnya oleh Allah agar Kami perhatikan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS Al Isra:1).
Jadi, bisa kita pahami sebenarnya ilmu dan agama adalah sejalan. Hanya saja terkadang ilmu belum mampu dan butuh waktu untuk menjelaskan apa yang menjadi syariat dalam agama kita jika ditinjau dari segi keilmuan. Lalu apakah kehebatan ilmu sains bisa membuat seseorang itu menjadi beriman ? Faktanya tidak. Stephen Hawking salah satu ilmuwan terhebat abad modern pernah berkata yang kurang lebihnya, "Bahwa ke sudut manapun anda pergi menjelajah jagad raya ini, anda tidak akan pernah menemukan tuhan (god, ditulis dengan g huruf kecil), anda hanya akan menemukan gugusan bintang dan galaksi". Siapa pun ia jika mengira akal adalah Tuhan yang patut disembah, sains adalah Maha Guru tertinggi yang patut dipuji, maka ia bagai berada dalam dimensi yang terus memenjaranya untuk tidak menemukan kebenaran hakiki. Sains tak bisa membuktikan Tuhan ada, tapi sains juga tidak bisa membuktikan Tuhan itu tidak ada. Dengan ini hendaklah membatasi ekspansi sains, menyisakan ruang bagi iman.

